PESONA JEMBATAN AKA (AKAR) BAYANG, PESISIR SELATAN

Jembatan yang menawarkan sesuatu yang berbeda, jauh dari suasana gemerlap atau gemuruh kenderaan. Tetapi yang terdengar suara gemercik air, burung-burung yang bersenandung, desiran angin seperti nyanyian alam yang begitu indah seperti persembahan dari sorga. Tentu saja Jembatan Aka tempat yang cocok untuk melenturkan saraf-saraf yang lelah bekerja di kantor.

Jembatan Aka berada di Painan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Jembatan Aka sudah lama menjadi daya tarik para turis lokal dan asing untuk berkunjung ke Painan. Kunjungan wisatawan akan semangkin ramai bila saat libur tiba.

Objek wisata Jembatan Aka berjarak sekitar 70 km ke arah Kota Padang atau 15 km dari Painan ibu kota Pesisir Selatan. Perjalanan menuju ke Jembatan Aka akan melalui Pelabuhan legendaries di Sumatera Barat. Saya yakin banyak orang yang pernah dengar dengan nama pelabuhan Teluk Bayur yang sudah terkenal sejak tempo dulu, sebagai pusat ekonomi Sumatera Bagian Tengah.

Perjalanan menuju objek wisata Jembatan Aka juga akan menghadirkan nuansa alam pedesaan yang masih alami. Bila kita lemparkan pandangan, kita akan menyaksikan hamparan sawah-sawah penduduk yang hijau memukau, terusan sungai Batang Bayang yang berair jernih dan lambaian nyiur seolah sebuah lukisan seorang mastero dan khusus dipersembahkan di sepanjang perjalanan menuju Jembatan Aka.

Jembatan Aka hanya berjarak 1 km dari Simpang Bayang, dari kejauhan akan terdengar suara gemercik air, kicau burung dan tentunya tidak ketinggalan suara canda anak-anak yang sedang mandi di sungai yang berair jernih.

Selama ini sebuah jembatan akan dibuat dengan kontruksi baja atau setidaknya dari kontruksi kayu yang membentang pada sebuah sungai. Tetapi di sini jembatan bukan mengunakan kontruksi baja atau kayu tetapi akar yang terjalin begitu rupa sehingga menyerupai sebuah jembatan yang dapat dilalui manusia, ternak, maupun kenderaan roda dua.

Orang yang datang ke objek wisata Jembatan Akar pastinya akan terkagum-kagum menyaksikan dua akar pohon yang menghubungkan dua desa Puluik-Puluik dan Lubuk Silau. Jembatan yang berukuran panjang 30 meter dan lebar 1 meter serta berada 6 meter dari permukaan sungai dapat dilalui 50 orang sekaligus.

Pesona Jembatan Aka seperti sebuah magnet yang maha dahsyat untuk menarik Anda berjalan di atas jembatan sepanjang 30 meter tersebut dan jangan heran bila Anda sudah berada di atas jembatan, maka akan ada suatu sensasi yang membuat Anda untuk enggan turun tetapi ingin berlama-lama berada diatas jembatan, sambil menikmati air yang mengalir jernih, senda gurau anak-anak yang bermain dan mandi di sungai, bahkan ada anak-anak yang meloncat dari sisi tebing dan meluncur ke sungai, sementara pada sisi kiri dan kanan sungai terlihat wisatawan-wisatawan duduk sambil menikmati teduhnya alam dibawah naungan dua pohon raksasa, dari kejauhan juga akan terlihat aktivitas masyarakat setempat di sawah-sawah dan kebun yang terdapat di sekitar jembatan.

Anda juga dapat berenang di sungai yang mengalir dibawah Jembatan Aka bercengkrama dengan air yang mengalir tentunya akan membuat wisata Anda dan keluarga akan bertambah lengkap. Berdasarkan lengenda yang kami himpun, konon bila mandi tetap dibawah Jempatan Aka, maka akan enteng jodoh dan rezekinya juga akan mengalir dengan lancar.

Puas menyaksikan pemandangan yang begitu indah dari atas jembatan serta berenang di air sungai yang deras, tentunya lapar datang menjelang. Tidak lengkap rasanya bila datang ke Painan tidak makan rendang lokan yang terkenal lezat tersebut. Tetapi untuk mengantisipasi kekecewaan tidak ada yang menjual rendang lokan di objek wisata sebaiknya Anda membeli di rumah-rumah makan yang ada di kota Painan. Sementara bila hanya ingin sekedar mencicipi makan ringan sembari minum kopi, Anda bisa dapatkan di warung-warung di sepanjang sungai, begitu juga kios-kios cenderamata yang menjual berbagai aksesoris juga ada di sekitar objek wisata.

Berwisata ke Jembatan Aka tidak lengkap rasanya bila tidak mengetahui asal muasal Jembatan Aka. Menurut legenda berdasarkan penuturan tokoh masyarakat setempat Jembatan Akar itu awalnya dirancang Pakiah Sokan yang kerap dipanggil Angku Ketek bersama masyarakat Desa Pulut-pulut. Pakiah Sokan adalah seorang yang berilmu tinggi dan sering memberikan pengajian. Terbit ide untuk membuat Jembatan Akar, setelah titian bambu yang biasa digunakan masyarakat sering hancur dan diseret air bah ketika Sungai Batang Bayang meluap. Untuk seorang Pakiah Sokan ada atau tidak adanya jembatan sebagai sarana penyeberangan tidak berpengaruh baginya dalam menyebrangi sungai tersebut. Masalahnya dengan ilmu yang dimiliki Pakiah Sokan, beliau dapat meluncur diatas air sungai yang mengalir cukup deras.

Pohon beringin itu, konon katanya juga ditanam oleh Pakiah Sokan. Selain pohon beringin, ia juga menanam pohon asam kumbang, tak jauh dari titian bambu. Perguliran waktu tak terasa, pohon itu terus kembang dan tumbuh. Akar-akarnya tak mencapai tanah, lantaran dihalangi bebatuan Batang Bayang. Akar-akar yang bergelantungan oleh Pakiah Sokan dibantu masyarakat dengan tekun memasukkan dan melilitkan akar tadi ke dalam titian bambu. Tahun demi tahun akar-akar kedua pohon itu terus tumbuh dan berkembang, menjadi panjang, besar, dan lebat, sehingga lilitan akar tadi telah menjelma menjadi jembatan yang kokoh

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s