Keefektifan Pembelajaran


Reigeluth dan Merrill (1979) mengemukakan bahwa pengukuran keefektifan pembelajaran harus selalu dikaitkan dengan pencapaian tujuan pembelajaran. Empat indikator penting yang dapat dipakai untuk menetapkan keefektifan pembelajaran yang dikemukakan Reigeluth dan Merrill (1979), dalam buku ini ditambahkan lagi tiga indikator lainnya dalam kaitannya dengan pencapaian tujuan, yaitu: (1) kesesuaian dengan prosedur, (2) kuantitas unjuk-kerja, dan (3) kualitas hasil akhir. Dengan demikian, keseluruhan ada tujuh indikator yang dapat digunakan untuk menetapkan keefektifan suatu pembelajaran, seperti berikut ini:

  1. Kecermatan penguasaan perilaku.
  2. Kecepatan unjuk kerja.
  3. Kesesuaian dengan prosedur.
  4. Kuantitas unjuk kerja.
  5. Kualitas hasil akhir.
  6. Tingkat alih belajar.
  7.  Tingkat retensi.

Kecermatan Penguasaan

Kecermatan penguasaan perilaku yang dipelajari, juga sering disebut dengan tingkat kesalahan unjuk kerja, dapat dipakai sebagai indikator untuk menetapkan keefektifan pembelajaran. Makin cermat siswa menguasai perilaku yang dipelajari, makin efektif pembelajaran yang telah dijalankan. Atau, dengan ungkapan lain, makin kecil tingkat kesalahan, berarti makin efektif pembelajaran .

Kesulitan yang segera muncul adalah ketika penentuan kriteria tingkat kecermatan. Tingkat kecermatan dapat ditunjukkan oleh jumlah kesalahan dalam suatu unjuk-kerja. Makin banyak kesalahan yang dibuat, makin tidak cermat unjuk-kerja siswa. Berapa tingkat kesalahan yang bisa diterima untuk menetapkan bahwa suatu pembelajaran  efektif? Nampaknya sukar menemukan jawaban yang baku mengenai pertanyaan ini. Ia akan amat tergantung pada jenis unjuk-kerja yang diinginkan. Umpamanya, unjuk kerja: “Menghitung jumlah kuadrat 50 skor”, menuntut tingkat kecermatan 100%. Dalam unjuk-kerja: “Membuat definisi penelitian eksperimental”, tingkat kecermatannya bisa bergerak turun dari 100%. Pertanyaan yang muncul, berapa persen penurunan tingkat kecermatan yang bisa ditoleransi sebagai ukuran keefektifan. Kemp (1985:230) memberi rambu-rambu tentang hal ini, sebagai berikut:

In a systematically planned academic cource, attainment of the 80 percent level by at least 80 percent of the learners in a class could be acceptable as a highly effective program. In a vocational or skill area, 90-90 (90 percent of the trainees accomplishing 90 percent of the objectives) might be the accepted success level.

Indeks keefektifan mengungkapkan 2 hal pokok, yaitu (1) tingkat persentase siswa yang mencapai tingkat penguasaan tujuan, dan (2) persentase rata-rata  penguasaan tujuan oleh semua siswa. Jadi, apabila semua siswa mencapai semua tujuan yang telah ditetapkan, maka indeks keefektifannya dapat diungkapkan dengan 100-100. Ini adalah indeks keefektifan maksimum. Apabila hanya 85% siswa mencapai 80% tujuan yang telah ditetapkan, apakah pembelajaran dapat dikatakan efektif? Rambu-rambu Kemp dapat menjawab pertanyaan ini.

Bagaimanapun juga, dengan berbagai kondisi yang ada: karakteristik tujuan dan bidang studi, kendala, dan karakteristik siswa; demikian juga ketidak-mampuan guru dalam merancang metode pembelajaran yang optimal: strategi pengorganisasian, strategi penyampaian, dan strategi pengelolaan; akan terlalu ideal kalau mengharapkan tingkat keefektifan 100%. Memang tingkat keefektifan ini adalah yang terbaik, namun variabel kondisional pembelajaran  secara sistematik membatasi kemungkinan pencapaian tingkat keefektifan tertinggi ini.

Kecepatan unjuk-kerja

Indikator kedua untuk mengukur tingkat keefektifan pembelajaran  adalah kecepatan dalam unjuk-kerja. Kalau kecermatan penguasaan dikaitkan dengan jumlah kesalahan, maka kecepatan unjuk-kerja dikaitkan dengan jumlah waktu yang diperlukan dalam menampilkan unjuk-kerja itu. Kecepatan unjuk kerja ini diacu oleh Reigeluth dan Merrill (1979) sebagai performance efficiency. Makin cepat seorang siswa manampilkan unjuk-kerja, semakin efektif pembelajaran. Umpamanya, unjuk kerja:

“Menghitung jumlah kuadrat 50 buah skor”, yang diselesaikan oleh seorang siswa dalam 5 menit, lebih efektif dari yang diselesaikan setelah 5 menit.

Bagaimanapun juga, jumlah waktu yang dipakai untuk menampilkan unjuk-kerja, sebenarnya hanya merupakan indikator eksternal. Efisiensi unjuk-kerja hakekatnya lebih dari sekedar mengukur jumlah waktu yang digunakan. Ia juga mengacu kepada cara-cara singkat yang dipakai dalam unjuk-kerja. Umpamanya, untuk menghitung jumlah kuadrat, tersedia beberapa rumus. Rumus tertentu dapat membantu siswa menemukan hasil perhitungan lebih cepat dari yang lain.

Kecepatan unjuk-kerja juga dapat ditaksir dari jumlah pengulangan hal sama yang dilakukan siswa ketika menampilkan unjuk-kerja. Ini bisa terjadi karena adanya kesalahan dalam menampilkan bagian-bagian dari suatu unjuk-kerja sehingga perlu diulangi, atau karena melakukan usaha coba-gagal. Semakin sedikit usaha coba-gagal dan/atau semakin sedikit kesalahan unjuk-kerja bagian yang dilakukan siswa, maka semakin cepat ia menampilkan unjuk-kerja itu.

Kesesuaian dengan Prosedur

Kesesuaian unjuk-kerja dengan prosedur baku yang telah ditetapkan juga dapat dijadikan indikator keefektifan pembelajaran. Pembelajaran dikatakan efektif apabila si-belajar dapat menampilkan unjuk-kerja yang sesuai dengan prosedur baku yang telah ditetapkan. Indikator ini penting sekali khususnya untuk unjuk-kerja tipe isi prosedural, baik tipe isi prosedural yang menunjukkan hubungan prasyarat, maupun tipe isi prosedural yang menunjukkan hubungan putusan.

Untuk tipe isi prosedural hubungan prasyarat, setiap bagian prosedur yang menjadi prasyarat harus diselesaikan

lebih dulu sebelum menampilkan unjuk-kerja bagian prosedur berikutnya. Umpamanya, unjuk-kerja: “Mengetik dengan mesin pengolah kata”, harus mengikuti prosedur baku yang telah ditentukan. Unjuk-kerja bagian-bagian prosedur tidak dapat diubah urutannya.

Untuk tipe isi prosedural hubungan putusan, penyelesaian suatu bagian prosedur membawa pada pilihan-pilihan bagian prosedur berikutnya. keputusan untuk mengikuti suatu bagian prosedur berikutnya harus diambil dengan tepat. Kesalahan putusan dalam memilih suatu bagian prosedur akan mengantarakan siswa pada kesalahan unjuk-kerja secara keseluruhan. Umpamanya, dalam unjuk kerja: “Prosedur mengambil keputusan statistik dalam pengujian hipotesis”. Penyelesaian suatu langkah prosedural menghitung nilai statistik, membawa pada pilihan langkah prosedural berikutnya yaitu pengujian nilai statistik. Apabila signifikan, maka hipotesis nihil ditolak, sedangkan apabila tidak signifikan, maka hipotesis nihil diterima. Putusan “Hipotesis nihil ditolak” dan “Hipotesis nihil diterima” ini didasarkan pada informasi yang ada pada langkah prosedural sebelumnya, yaitu hasil pengujian nilai statistik.

Kuantitas unjuk-kerja

Sebagai indikator keefektifan pembelajaran, kuantitas unjuk-kerja mengacu kepada banyaknya unjuk-kerja yang mampu ditampilkan oleh siswa dalam waktu tertentu yang telah ditetapkan. Perancang-perancang pembelajaran  banyak yang mengaitkan kuantitas unjuk-kerja ini pada jumlah tujuan yang dicapai siswa. Makin banyak tujuan yang tercapai berarti makin efektif pembelajaran. Dengan ungkapan lain, keefektifan suatu pembelajaran dapat diukur dengan banyaknya unjuk-kerja yang mampu diperlihatkan oleh siswa.

Persoalan yang sama muncul kembali seperti pada uraian mengenai tingkat kecermatan. Dengan ungkapan pertanyaan: berapa batas terendah persentase tujuan yang tercapai untuk menetapkan suatu pembelajaran  itu efektif atau tidak? Rambu-rambu Kemp (1985), seperti telah dikemukakan sebelumnya, nampaknya juga dapat dipakai di sini.

Kualitas Hasil Akhir

Kadang-kadang keefektifan suatu pembelajaran  sukar diukur dengan cara-cara sebelumnya, seperti pembelajaran  dalam bidang ketrampilan atau seni. Unjuk-kerja sering kali lebih didasarkan pada sikap dan rasa seni, daripada prosedur baku yang harus diikuti. Oleh karena itu, cara-cara mengukur keefektifan pembelajaran  seperti diuraikan sebelumnya sukar diterapkan. Cara yang paling mungkin untuk ini adalah mengamati kualitas hasil unjuk-kerja. Umpamanya, unjuk-kerja melukis. Yang diamati bukan unjuk-kerja ketika siswa melukis, tetapi lukisannya setelah selesai digarap.

Unjuk-kerja menari, umpamanya, tidak dapat diukur hanya dengan menggunakan prosedur baku. Ada unsur lain, yaitu rasa seni, yang lebih menentukan kualitas tarian. Dua orang penari meskipun telah mengikuti semua prosedur baku yang telah ditetapkan, tetapi mereka tetap memperlihatkan kualitas tarian yang berbeda.

Tingkat Alih Belajar

Kemampuan siswa dalam melakukan alih belajar dari apa yang telah dikuasainya ke hal lain yang serupa, juga merupakan indikator penting untuk menetapkan keefektifan pembelajaran. Indikator ini banyak terkait dengan indikator-indikator sebelumnya, seperti: tingkat kecermatan, kesesuaian prosedur, dan kualitas hasil akhir.

Indikator-indikator ini amat menunjang unjuk-kerja alih belajar. Oleh karena itu, penetapan keefektifan pembelajaran berdasarkan tingkat alih belajar, perlu didasarkan pada informasi mengenai indikator-indikator tersebut.

Semakin cermat penguasaan siswa pada unjuk-kerja tertentu, maka semakin besar peluangnya untuk melakukan alih belajar pada unjuk-kerja yang sejenis. Demikian pula, semakin sesuai unjuk-kerja yang diperlihatkan siswa dengan prosedur baku yang telah ditetapkan, semakin besar peluangnya untuk melakukan alih belajar pada unjuk-kerja yang sejenis. Akhirnya, semakin tinggi kualitas hasil yang diperlihatkan siswa, semakin besar peluang keberhasilan dalam melakukan alih belajar pada hasil unjuk-kerja yang sejenis.

Tingkat Retensi

Indikator terakhir yang dapat digunakan untuk menetapkan keefektifan pembelajaran adalah tingkat retensi, yaitu jumlah unjuk-kerja yang masih mampu ditampilkan siswa setelah selang periode waktu tertentu. Atau, dengan menggunakan konsepsi memory theorists, jumlah informasi yang masih mampu diingat atau diungkapkan kembali oleh si-belajar setelah selang waktu tetentu. Jadi, makin tinggi retensi berarti semakin efektif pembelajaran  itu.

Sebagai indikator pengukuran keefektifan pembelajar-an, tingkat retensi lebih tepat dipakai pada pembelajaran  yang menekankan ingatan. Kalau menggunakan taksonomi Merrill (1983), dari tiga tingkat unjuk-kerja yang dikemu-kakannya: mengingat, menggunakan, dan menemukan; tingkat mengingat fakta, konsep, prosedur, atau prinsip, yang cocok digunakan untuk menetapkan tingkat retensi.

Kalau menggunakan taksonomi Gagne (1985), maka pembelajaran ranah informasi verbal dapat diukur keefektifannya dengan menggunakan tingkat retensi.

Ketujuh indikator ini: tingkat kecermatan, tingkat kecepatan, kesesuaian dengan prosedur baku, kuantitas, kualitas hasil akhir, tingkat alih belajar, dan tingkat retensi, dalam kenyataannya jarang digunakan secara keseluruhannya untuk menetapkan keefektifan suatu pembelajaran. Pilihan perlu dibuat berdasarkan pada tujuan yang ingin dicapai. Bila tekanan tujuan adalah pada penguasaan unjuk-kerja tertentu dengan tingkat kecermatan tinggi, maka indikator tingkat kecermatan harus dipakai. Demikian juga, apabila tekanan tujuan pada kuantitas unjuk-kerja, maka indikator kuantitas yang harus dipakai. Tekanan tujuan, apakah itu pada tingkat kecermatan, atau tingkat kecepatan, dan seterusnya, dapat diketahui dari rumusan tujuan khusus pembelajaran, seperti dalam bahasan Bab 2.

Perlu juga dicatat di sini bahwa satu indikator seringkali tidak cukup sebagai informasi untuk menetapkan keefektifan suatu pembelajaran . Dalam hal ini, menggunakan indikator-indikator lain yang sesuai akan lebih dapat menggambarkan tingkat keefektifan secara lebih cermat. Umpamanya, unjuk kerja: “mengetik surat dengan mesin pengolah kata”, di samping dapat diukur dengan menggunakan tingkat kecermatan, juga dapat diukur dengan tingkat kecepatan, kesesuaian dengan prosedur baku, kuantitas, dan kualitas hasil akhir.

Dalam mengukur keefektifan suatu program pembelajaran, harus diakui bahwa ada hasil pembelajaran  yang langsung dapat diukur setelah pembelajaran  berakhir, dan ada hasil pembelajaran yang terbentuk secara kumulatif (hasil pengiring), karena itu tidak segera bisa diamati.  Joyce dan Weil (1980; 1986) mengacukan hasil pembelajaran  langsung sebagai instructional effects,

dan pembelajaran yang terbentuk secara kumulatif disebutnya sebagai nurturant effects. Uraian dalam buku ini dibatasi pada hasil pembelajaran  yang langsung.

Di samping mengaitkan pengukuran tingkat keefektifan pembelajaran  dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, pengaitan dengan tipe isi bidang studi juga dapat dilakukan. Meskipun harus diakui bahwa karena adanya kaitan langsung antara tujuan dan isi pembelajaran, maka pengukuran pada variabel tujuan sudah dapat menggambarkan keefektifan pembelajaran. Untuk keperluan analisis konseptual kedua variabel ini dapat dan perlu dipisahkan. Uraian lebih rinci mengenai ini akan dikemukakan secara tersendiri setelah uraian efisiensi dan daya tarik pembelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s