First trip to Lawang (Part 1)

Kemasyuran danau Maninjau jangan di ragukan lagi, suasana alam yang indah ditambah dengan kemolekan danau yang dikelilingi perbukitan menambah daya tarik  daerah ini. Disamping dikenal dengan danaunya daerah ini juga dikenal sebagai daerah tujuan olahraga Paralayang.
Nah kali ini yang akan coba mimin bahas bukan danaunya melainkan Bukit Lawang (biasa dikenal dengan Puncak Lawang).

Nah mungkin bukan hal baru lagi pagi teman-teman semua mendengar nama tersebut. Namun beda halnya dengan mimin, sebelumnya mimin belum pernah pergi ke daerah yang terkenal dengan keindahannya ini. Diiringi oleh rasa penasaran dicampur dengan segelas kepenatan rutinitas sehari-hari akhirnya mimin paksakan juga untuk mengunjungi daerah ini.

Pagi itu hari yang cerah, sinar mentari tidak malu-malu mendobrak masuk kecelah ventilasi rumah. Akupun terbangun dari tidurku yang sama sekali tidak lelap. Memang aku kurang tidur. Tiga jam tidur bukanlah waktu yang optimal mengembalikan kesegaran tubuh. Dengan langkah gontai akupun duduk didepan komputer. Tiba-tiba teringat rencana semalam, si Agi temanku sejak SMP ini mengajak pergi liburan walaupun tidak tau mau kemana sampai akhirnya diputuskan untuk pergi ke Puncak Lawang. Tapi hingga pagi ini yang sudah mulai beranjak siang belum ada tanda-tanda rencana itu akan terlaksana . Akupun mencoba menghubungi dia (pasti dia akan balas lama sms ku ini, itu pikirku). Appaaa!! Ternyata !! (di balas). Oke qw mandi dulu ya, loe jangan lupa juga siap-siap.
Singkat cerita akhirnya kita pergi menggunakan mobil Avanza warna hitam miliknya, dan tentunya tidak lupa mengajak Rivo, Abod dan Uul, mereka juga teman SMP ku. STOOOPPP !! kenapa jadi cerpen gini .. oke lanjut

Nah ternyata karena ini memang libur panjang pilihan kami pergi dengan mobil itu SALAH. Perjalanan menuju Bukittinggi yang biasa ditempuh paling lama 2 jam menjadi 3 jam. Kami berangkat jam setengah 12 baru sampai di Bukittinggi jam setengah 3. Kami memang singgah terlebih dahulu di kota Jam Gadang ini ingin menjeput temanku satu lagi , Ace namanya.

Sesampainya di kos si Ace bukannya bersiap-siap pergi ke tujuan awal malah bersantai ria dahulu. Kami duduk-duduk sambil main kartu. Ntah apa namanya permainan ini. Yang ku ingat hanya “… banting” titik-titiknya aku lupa.

Tapi ternyata karena keasyikan main waktupun telah menunjukan hampir setngah enam, kamipun bergegas ke Puncak Lawang, dengan harapan bisa melihat matahari terbenam dari puncaknya.

Neh keadaan ketika main kartu yang membuat lupa waktu

Diperkirakan dari tempat kos ke tujuan itu memakan waktu 1 jam, ternyata malang tidak dapat ditolak – mujur tak dapat diraih (bener ga pribahasanya, hehehe) sesampai di Padang Luar (Padang Lua) macetnya minta ampun #gigitbb.

Akhirnya setelah perempatan kamipun keluar dari kemacetan, sambil jalan mimin sempatkan memotret pemandangan sekitar

Tempak gagah dari kejauahan gunung Singgalang dikala senja.

Kamipun sampai di pasar dekat Puncak Lawan dikala Adzan Magrib. Kamipun berhenti sebentar membeli kacang dan beberapa camilan, tidak lupa mimin membeli Antimo (sttt jangan bilang-bilang ya, mimin sebenarnya tidak tahan kalau berlama-lama naik mobil dan duduk sebagai penumpang, kuncangannya bos bikin ajeb-ajeb neh cacing di perut).

 Neh sambil menunggu adzan kamipun berhenti tidak lupa mimin futu – futu (walaupun perut mual belum hilang)

Kamipun melanjutkan perjalanan dan berencana sholat di mesjid yang ada di Pucak Lawang.
Akhirnya kamipun sampai, syukurlah. Namun di perjalanan sampai ke puncak kami disambut dengan kabut , jarak pandang tak lebih dari 10 meter (perkiraan mimin loh). Wah pemandangan yang mengagumkan kabut merangkak naik disela pohon pinus. Baru kali ini aku merasakan suasana seindah ini, dingin. Namun tentunya sunset yang kami inginkanpun tidak kami temui, hanya langit berbintang yang tehalang kabut sehingga suasana begitu mencekam (nah lo), sueer emang mencekam, masjid yang kami tujupun tidak dilengkapi dengan penerangan, tidak ada satupun sumber cahaya selain api yang berasal dari tong sampah. Di puncak betul-betul sepi hanya kabut yang menemani kami, sedangkan pengunjung lain lebih memilih berkumpul di lapangan parkir sekitar 200 meter menuruni tengga dari tempat kami berdiri.

Rasa kebeletpun tak dapat kami tahan, si jon (maaf klo ada kesamaan nama, memang saya menamakan ini dengan si jon) tidak mampu menahan rasa dingin ini. Sesampai di toilet masjid (lampunya mati) kami tidak menemukan setetes air pun di ruang wudhunya dan jaring laba-laba memenuhi tempat penampungan air di wc-nya. Ntah memang sudah lama tidak dipakai atau memang si laba-laba baru pindah kontrakan kesana miminpun tidak sempat memikirkan itu. Kamipun bergegas turun dan balik pulang, walau sedikit kecewa tidak bisa menikmati keindahan puncak bukit ini dikarenakan hari sudah malam, kami pun putar arah dan melanjutkan perjalanan kembali ke Bukittinggi.

Takut waktu sholat magrib habis kamipun segera mencari Masjid di sekitar jalan pulang, syukurlah kami menemukannya. Tanpa banyak mukadimah ataupun salto terlebih dahulu kamipun langsung berlari menuju tempat wudlu.

Tampak di atas si Rivo sedang khusuk sholat magrib. setelah sholat mimin tidak lupa memotret beberapa sisi mesjid (untuk mengobati kekecewaan tidak bisa mengabadikan gambar di puncak Lawang).

Sesampai di Bukittinggi kamipun bergegas mencari tempat makanan. Enak dan murah tentunya. Akhirnya kami berhenti disebuah tenda yang menjual berbagai macam makanan. Tampak berjejer berbagai makanan yang dijual pedangan seperti sate, nasi goreng, soto, mie goreng, skoteng dan masih banyak lagi.

Pilihanku pun jatuh pada nasi goreng dan Kopi susu hangat. Memang cocok menemani suasana dingin di kota ini.

Semua tampak lahap menyantap sajian yang telah tersedia di hadapan mereka.

Meskipun belum berhasil menyaksikan puncak lawang dikala siang, setidaknya perjalanan kali ini memberi berjuta pengalaman dan kenangan. Lain kesempatan mimin akan kembali lagi ketempat ini. Setidaknya kali ini cukup buat permulaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s